Sat. Dec 1st, 2018

Spekulasi Pilpres 2019, Siapa Pegang Bola?

Hingar bingar perihal calon presiden punya banyak pilihan untuk menyambut pesta rakyat pada 2019 mendatang. PDI Perjuangan, partai yang menganggap kader di pemerintahan adalah petugas partai, tak sejak dini mencalonkan “Jokowi”.

PDIP baru mencalonkan Jokowi tiga bulan kemudian, Februari lalu. Deklarasi pencalonan adalah pengabsahan sikap politik. Sama seperti Partai Gerindra yang baru mendeklarasikan pencalonan sang ketua umum, Prabowo Subianto, bulan ini.

Garapan Jokowi?

Sudah lama di tunggu-tunggu Deklarasi Gerindra pada kenyataannya setelah Prabowo jadi calon presiden, mitra partai bernama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tak kunjung mendeklarasikan dukungan. Begitu pula dengan Partai Amanat Nasional (PAN).

Hal itu serupa Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang tak kunjung jelas, ingin berkubu di pihak Jokowi ataukah Prabowo. Hal yang sudah jelas, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar ingin jadi cawapres 2019 mendatang.

Melihat capaian dukungan terhadap Prabowo, muncul spekulasi bahwa Prabowo akan menjadikan mandat partai untuk memutuskan orang lain yang menjadi capres (kumparan, 20/4/2018).

Kian santer kabar yang beredar, Jokowi malah berniat menggandeng Prabowo sebagai cawapres. Sudah berlangsung lobi untuk merayu Prabowo. Salah satu syarat Prabowo, kalau dirinya jadi capres, adalah mengontrol militer (Majalah Tempo, edisi 29/4/2018).

Selain itu, Jokowi juga sudah mendekati PKS, dan akan ia paparkan dalam Mata Najwa di Trans TV hari ini (25/4/2018, h/t detik).

Di sisi lain, Prabowo juga cukup membutuhkan tambahan 40 kursi di parlemen dari PKS. Seperti tersandera, PKS hanya mau mendukung jika mendapatkan pos cawapres bagi satu dari sembilan kadernya.

Manuver SBY!

Sedangkan Partai Demokrat, pemilik 61 kursi di DPR, tak kunjung jelas akan mesra pada kubu Prabowo ataukah Jokowi. “Susilo Bambang Yudhoyono” sang ketua umum Demokrat, kemarin malah mengatakan partainya akan mengusung pasangan capres dan cawapres versi mereka (kumparan, 24/4/2018).

Perkembangan terakhir, Demokrat mendekati PKS, PKB, PAN, dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk membentuk poros ketiga (Viva, 24/4/2018).

Akan tetapi bukannya PPP mendukung Jokowi? Senin lalu Sekjen PPP Arsul Sani menegaskan keberpihakan partainya kepada Jokowi. Partai SBY, “Soal gabung itu sepenuhnya kita serahkan kepada Partai Demokrat. Toh, koalisi pengusung Pak Jokowi sudah lebih dari cukup.” (kumparan, 23/4/2018).

Berbicara Soal Gatot Nurmantyo

Siapakah capres dan cawapres, sesungguhnya hanya sah setelah diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum, September nanti. Sebelum pendaftaran, banyak hal bisa berubah.

Akan halnya Gatot Nurmantyo, mantan panglima TNI, yang menyatakan siap maju Pilpres 2019, dan baliho pendukungnya menyatakan “Tahu kapan harus bergerak“, sejauh ini belum dicalonkan oleh partai mana pun.

Senin lalu ia berujar kepada Kompas TV, “… apabila ada partai yang mau mengusung saya tidak langsung mau. Kita akan negosiasikan.” (Kompas.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *